|
|
SHARE STORY: Sejumlah remaja tampak sibuk memilih pakaian di sebuah toko di Kota Bandung. Bermacam pakaian yang dipajang sangat khas, jelas tersegmentasi untuk anak muda. Warnanya cerah, beberapa tampak mencolok dengan desain kreatif dan terkesan berani. Sejumlah remaja tampak sibuk memilih pakaian di sebuah toko di Kota Bandung. Bermacam pakaian yang dipajang sangat khas, jelas tersegmentasi untuk anak muda. Warnanya cerah, beberapa tampak mencolok dengan desain kreatif dan terkesan berani.Ada lagi toko pakaian yang menampilkan produk-produk dengan tema seputar Kota Bandung. Pada pakaiannya terlihat gambar atau tulisan yang mengajak masyarakat untuk melestarikan taman kota. Produk lain berisi ajakan supaya polusi udara ditekan atau menghemat air. Sementara di sudut lain Kota Bandung anggota kelompok musik berjingkrak, mengekspresikan diri di atas panggung. Tak ada rasa minder meski lagunya tak direkam industri musik besar. Bahkan, para penonton tak kalah bersemangatnya menikmati alunan musik. Meski dengan penjualan terbatas, tidak sedikit jumlah penggemar jalur rekaman yang biasa disebut indie label itu. Mereka bahkan rela mencari album idolanya walaupun kadang sulit sebab tak selalu tersedia di toko kaset. Penjualannya pun melonjak. Seluruh gambaran itu jelas menunjukkan kelebihan yang khas dimiliki kota itu. Semua adalah produk dari industri kreatif Bandung. Wakil Ketua Dewan Pengurus Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (Pupuk) Kawi Boedisetio mengatakan, industri kreatif merupakan usaha yang sangat terkait erat dengan budaya, kearifan lokal, dan akhirnya mengarah pada perolehan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Industri kreatif yang memerhatikan faktor tersebut antara lain busana, mebel, perangkat lunak komputer, musik, dan periklanan. Sektor usaha itu tidak dikelola hanya untuk menghasilkan produksi massal dan berorientasi pada pemasukan. Oleh karena itu, wajar bila harga sejumlah produk lebih mahal dibandingkan dengan lainnya. Kawi mengatakan, industri kreatif sangat potensial karena menghasilkan peningkatan produk domestik regional bruto yang signifikan. Di beberapa negara maju seperti Inggris, kecenderungan semacam itu sudah terjadi dan di Indonesia sendiri mulai terlihat situasi yang sama. "Tidak seluruh usaha mebel, perangkat lunak, atau produk lain adalah industri kreatif. Bila sudah didapatkan uang dari HAKI, itu indikasi industri kreatif," paparnya. Usaha semacam itu yang paling menonjol, kata Kawi, adalah distro. Pelaku usaha distro memproduksi pakaian, seperti kaus, T-shirt, jaket, dan sweter. Sebuah bus yang diubah menjadi distro dan berkeliling Kota Bandung menjajakan busana adalah contoh kreativitas itu. Di lain pihak, produsen baju C-59 merupakan perintis dari industri kreatif di Kota Bandung. Pelaku industri kreatif lain adalah para pemusik yang memasarkan rekamannya tanpa jalur distribusi umum dan berkarya di luar label besar. Industri kreatif lebih menekankan pada penjualan gagasan daripada produknya. Nilai tambah diperoleh bukan dari volume produksi. Pada masa mendatang, kata Kawi, potensi industri kreatif Kota Bandung sangat besar. Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) Fiki Chikara Satari mengatakan, bertambahnya jumlah distro sebagai industri kreatif dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Selama tahun 2002 hingga 2006, jumlah distro bertambah dari 200 unit menjadi 400 unit. Sebenarnya, usaha tersebut terbagi dalam dua macam, yaitu distro sendiri dan clothing. Distro adalah toko yang menjual produk bermerek independen, sedangkan clothing adalah usaha yang hanya mengeluarkan produk bermerek tersebut. Menurut Fiki, distro perlahan-lahan muncul di Bandung sekitar 10 tahun lalu. Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Daerah Jawa Barat Iwan Dermawan mengatakan, industri kreatif seperti distro sudah banyak bermunculan di Kota Bandung. Prospek industri kreatif pada masa mendatang diperkirakan semakin baik. Keberadaannya sangat sesuai dengan pamor Bandung sebagai kota wisata belanja. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar Agus Gustiar mengatakan, pelaku usaha distro kebanyakan adalah anak-anak muda yang sangat kreatif dalam menghasilkan produknya. Mereka perlu dihargai dan lebih mendapatkan perhatian untuk memajukan usahanya. Pacu ekonomi Sekretaris Daerah Kota Bandung Edi Siswadi mengatakan, industri produktif memang memiliki potensi besar dan masih dapat terus dikembangkan. Industri tersebut bisa memacu pertumbuhan ekonomi Kota Bandung. Industri kreatif tidak terkena imbas krisis dan gejolak ekonomi. Sektor lainnya yang diandalkan adalah usaha jasa seperti hotel dan restoran sebagai salah satu penyumbang terbesar pendapatan asli daerah. Di luar industri kreatif, sektor sejenis yang potensial adalah tekstil, seperti di Cihampelas, Cibaduyut, dan Cigondewah. Ada lagi, factory outlet yang tersebar di berbagai lokasi. Meski demikian, kata Ketua Dewan Pengembangan Ekonomi Kota Bandung Herman Muchtar, keberadaan sektor-sektor itu sebagai sentra perdagangan dirasakan belum optimal dalam menunjang pendapatan daerah Kota Bandung. Pemicunya adalah minim dan buruknya infrastruktur dan fasilitas. Proses pembuatan izin usaha juga masih dirasakan kurang sederhana, tidak transparan, dan memakan waktu lama. Bahkan, koordinasi antarlembaga terkait dalam pengembangan sentra seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pendapatan Daerah, Dinas Perhubungan, dan kepolisian belum terpadu. |















Comments
jika ada perkembangan mohon beri tahu saya..
RSS feed for comments to this post.